Penyesalan

Barusan ketemu mama Tanya, sebetulnya bukan salah beliau menanyakan hal itu. membandingkan penghasilanku jika di semarang vs Jakarta.
Karena itu pula yang sering aku lakukan pada diriku sendiri
Aku terus menerus menyesali kesempatan yang hilang
Itu kah mengapa aku selalu bangun siang?
Aku selalu tidak bersemangat ke kantor. setiap aku dihadapkan masalah, aku mudah sekali untuk menyerah, dan selalu menyesal dan bertanya. kenapa aku harus ada disini.
Secara tidak sadar, begitulah aku berbicara kepada diriku sendiri
Aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini.
Penyesalan itu tidak pernah hilang.
Meskipun entah berapa lama aku tidur berusaha untuk menghilangkannya.
Penyesalan itu tetaplah ada
Apakah jika aku tetap di Jakarta, aku tidak akan memiliki penyesalan?
Aku pikir tidak.
Aku pasti akan punya penyesalan yang lebih besar. Bagaimana aku tidak menemani mama, bagaimana aku kehilangan moment dengan keluarga, adikku. bagaimana aku tidak memantau pertumbuhan adikku.
Aku pikir hidup adalah pilihan. Kita dihadapkan pada pilihan penyesalan mana yang akan kita pilih.
Tuhan, kenapa hidup mesti serumit ini?


Comments

Popular posts from this blog

40 minutes that I want to erase in my life

Adulting is suck

Who says I want to hate?